1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1
Gambar 1: Lokakarya Orientasi
(Foto Bersama Antara CGP 5 Kelas 78 A dan B Beserta PP)
(Dari kiri ke kanan: Bpk. Iswanto, Bpk. Wahyu, Ibu Sari, Ibu Candra, Ibu Cucu, Ibu Inta (PP), Ibu Fianti (PP), Ibu Jaya, Ibu Mutia, Ibu Maya, Ibu Reny dan Bpk. Andy)
A. Pendahuluan
Kata ‘Pendidikan’ dan ‘Pengajaran’ itu seringkali dipakai bersama-sama. Sebenarnya gabungan kedua kata itu dapat mengeruhkan pengertiannya yang asli. Ketahuilah, pembaca yang terhormat, bahwa sebenarnya yang dinamakan ‘pengajaran’ (onderwijs) itu merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Maksudnya, pengajaran itu tidak lain adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin. (dikutip dari: Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937)
Sesuai dengan hal tersebut dapat penulis intepratsikan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang saling berkaitan dalam lingkup formal maupun non-formal setiap mausia (murid) dalam proses penebalan karakter maupun kognisinya. Selain hal tersebut menurut penulis pengajaran adalah hal yang lebih mengarah pada teknis pemerolehan karakter maupun koginisi dalam proses pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan "rumah besar" dari pengajaran iru sendiri yang lebih bersifat filosofis.
Pendidikan dan pengajaran ini sepatutnya diperoleh anak dari seorang guru yang dengan setulus hati, penuh budi lemah lembut dan ikhlas menuntun murid dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan setinggi-tingginya melalui kegiatan pembelajaran yang "menghamba pada murid" dan senantiasa memperhatikan kodrat alam dan zamannya. Penghambaan kepada murid ini bukan berarti secara negatif dengan merendahkan harkat dan martabat guru, melainkan melaksanakan pembelajaran dengan orientasi utama adalah murid,dengan kata lain subjek dari pembelajaran tersebut adalah murid. Selain hal tersebut dalam pembelajaran juga senantiasa memperhatikan kearifan lokal sosial budaya sebagai bekal murid mengetahui dan mencintai budayanya. Hal tersebut perlu dilakukan karena potensi murid akan berkembang secara "merdeka" apabila pembelajaran yang berpusat pada murid. Guru dalam pembelajaran sebagaimana dijelaskan sebelumnya (pembelajaran yang berpusat pada murid) hendaknya bertindak sebagai fasilitator yang ngemong dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Ngemongnya seorang guru sebagai mana trilogi penjaran menurut Ki Hajar Dewantara yaitu: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Apabila dapat diartikan secara istilah oleh penulis adalah sebagai berikut: apabila di depan dapat menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya, apabila ada diantara murid dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk meraih cita-citanya dan guru mampu memberikan dorongan kepada muridnya untuk mengembangkan minat dan bakatnya sesuai dengan hal-hal yang digemarinya. Berdasar trilogi tersebut seorang guru hendaklah menjadi seorang yang sangat tahu tentang siapa yang diajarnya, pengetahuan tersebut sebagai bekal untuk menjadikan dirinya dicintai oleh muridnya dengan harapan akan mudah dalam memberikan motivasi serta dorongan kepada murid, selain hal tersebut seorang guru harus memiliki budi pekerti yang baik agar mampu menjadi contoh bagi murid-muridnya.
Hal-hal secara teoritik dan praktis akan penulis sampaikan lebih lanjut dalam kesimpulan dan refleksi pada bagian kesimpulan dan refleksi tentang filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Dalam membuat kesimpulan dan refleksi kali ini penulis akan menggunakan pertanyaan pemantik dalam membuat kesimpulan dan refleksi terhadap pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebagai berikut:
1. Apa yang Anda percaya tentang murid dan
pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?
2. Apa yang berubah dari pemikiran atau
perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?
3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?
B. Kesimpulan
Kesimpulan kali ini menurut penulis adalah hal-hal ideal yang diperoleh murid dalam pembelajaran menurut filosofi pembelajaran menurut Ki Hajar Dewantara. Kesimpulan yang dapat penulis tuliskan adalah sebagai berikut:
C. Refleksi
Untuk mempermudah refleksi kali ini saya akan membuat format tanya jawab berdasarkan pertanyaan pemantik diatas, sehingga memberikan kemudahan bagi penulis maupun pembaca untuk memahami apa yang penulis peroleh dari materi pada modul 1.1:
Pertanyaan 1: Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?
Jawaban Pertanyaan 1:
Setelah mempelajari materi dan pengetahuan pada dua minggu terakhir ini tentang filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara saya sangat merasa resah, karena pembelajaran yang salama ini saya pandu dan laksanakan bersama anak-anak didik/murid-murid saya belum sesuai dengan kodrat alam dan zaman anak-anak secara utuh. Selain keresahan tersebut adalah muncul rasa sangat bersalah kepada murid-murid saya, karena saya masih mengeneralisir pembelajaran baik dalam hal materi, proses maupun pengukuran keberhasilan setiap anak. Hal tersebut sangatlah tidak sesuai dengan kodrat alam, zaman dan kecenderungan belajar masing-masing anak. Sebab hal tersebut saya rasa pembelajaran bagi sebagian kecil atau sebagian besar anak didik saya pendidikan yang mereka jalani selama ini sangat membosankan dan tidak menyenangkan.
Sebagaimana hal yang penulis sampaikan diatas (sebelum penulis mempelajari modul 1.1) penulis percaya bahwa murid dan pembelajaran adalah hal-hal yang patut dikontrol sepenuhnya oleh seorang guru. Guru adalah rule model dan pemegang "permainan" utama dalam kelas. Hal tersebut dapat dikatakan guru adalah sebagai pusat dari segela hal yang ada di dalam pembelajaran dan kelas (teacher centered). Penerapan guru sebagai pusat pembelajaran ini karena penulis yakin,, bahwa murid akan mudah dikontrol dengan berbagai peraturan yang dibuat oleh guru sedangkan murid sebagai pelaksananya dan pada hal-hal tertentu disertai dengan adanya punishment, meskipun hukuman tersebut tidaklah berkenaan secara fisik, namun sedikit banyak akan membuat mental murid menjadi pribadi yang penakut karena adanya hukuman, bukan takut karena adanya nilai budi pekerti bahwa prilaku salah yang ia lakukan adalah sebuah hal yang tak perlu dilakukannya. Murid dalam pandangan penulis adalah secarik kertas kosong yang perlu diisi dengan dogma-dogma yang bersifat normatif yang disampaikan secara satu arah dari seorang guru, dengan harapan murid akan memperoleh sebuah nilai kognisi dan afeksi dari hal tersebut. Hal tersebut salah besar karena murid adalah mahkluk yang sudah mempunyai nilai-nilai sendiri dalam dirinya, peran kita sebagai seorang guru dan fasilitator adalah menebalkan nilai-nilai baik yang sudah ada dalam dirinya dan menyamarkan dan bahkan menghilangkan hal-hal buruk dari dalam dirinya juga. Hal ini dapat penulis ungkapkan dalam sebuah karya sajak yang dapat pembaca simak dalam link berikut: https://youtu.be/ej0-mc8SdNY
Sedangkan yang penulis percaya dalam pembelajaran sebelum mempelajari modul 1.1 adalah sebagai berikut: penulis merasa dengan pembelajaran yang berpusat pada guru, murid akan mudah untuk mengkontruksi pengetahuannya dari bahan-bahan belajar yang telah disiapkan oleh guru. Mereka cukup membaca, mempelajari, melakukan dan menyampaikan apa yang sudah dibatasi oleh guru untuk disampaikan oleh murid. Murid sangat jarang diberikan waktu untuk mengeksplorasi pengetahuan dan kemampuan mereka secara utuh dan dalam waktu yang cukup dan dengan mempertimbangkan kondisi sosio-kultur anak serta kodrat alam dan zaman dari murid itu sendiri.
Pertanyaan 2: Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?
Jawaban Pertanyaan 2:
Perubahan dalam pola
pembelajaran tentu akan diubah, karena hal-hal masih belum semuanya tepat dan sesuai dengan hal-hal yang sesuai dengan semboyan pendidikan Ki Hajar Dewantara yakni: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Hal tersebut apabila dilaksanakan dengan baik senantiasa memperhatikan kodrat alam dan zaman, penghambaan pada murid dan asa Trikon (Kontinyu, Konvergen dan Konsentris) Ki Hajaar Dewantara akan terwujud "merdeka belajar" yang seutuhnya. Impementasi nyata dari perubahan pemikiran dan perilaku penulis dalam melaksanakann tugas sebagai seorang guru adalah dengan menerapkan pembelajaran yang penuh
kasih sayang dan senantiasa menanamkan nilai-nilai budi pekerti baik kepada
murid. Selain hal tersebut implementasi dapat dilaksanakan dengan memposisikan
murid sebagai subjek pembelajaran sepenuhnya serta mendesain pembelajaran yang
mengakomodasi seluruh kecerdasan/kodrat masing-masing anak di dalam kelas.
Dengan hal tersebut seorang murid akan terasah secara matang pada masing-masing
kodrat yang mereka miliki. Selain hal tersebut penerapan sistem among dalam pembelajaran juga akan semakin mempererat hubungan penulis (guru) dengan murid yang selama ini masih seperti masih ada "tembok" pemisah. Dengan penerapan pembelajaran yang berpusat pada murid dan penuh kasih sayang bak ayah dan anaknya, maka murid
diharapkan mampu hidup bahagia dan selamat baik sebagai individu maupun masyarakat serta memiliki kemampuan kognisi yang terasah dan juga memiliki budi pekerti yang luhur.
Pertanyaan 3: Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?
Jawaban Pertanyaan 3:
Hal yang perlu segera diterapkan dalam kelas agar sesuai dengan pemikiran KHD adalah sebagai mana kisah pembelajaran yang pernah dialami oleh penulis berikut:
Memori itu adalah tentang pembelajaran yang didesain oleh guru saya di masa SMP di mata pelajaran Biologi. Bu Guru yang begitu saya ingat itu namanya adalah Bu Ulfa, beliau waktu itu mengajarkan kami untuk mengidentifikasi makhluk hidup yang terjaring dalam sebuah persegi bambu yang kami lempar di lapangan belakang kelas kami. Disana saya mengidentifikasi berbagai macam makhluk hidup dan benda mati. Lewat pelajaran tersebut saya sangat memahami dan mampu memilah komponen biotik dan abiotik, bahkan sampai saat ini saya masih sangat ingat memori kira-kira 19 tahun yang lalu itu. Kenapa saya sangat mengenang pembelajaran tersebut, karena Bu Ulfa mengakomodir kodrat alam saya sebagai orang yang memiliki kecerdasan natural yang lebih tinggi dibanding kecerdasan lain yang penulis miliki, sehingga sekali dipantik dengan hal-hal yang berbau alam maka akan sangat mengena, apalagi kegiatan tersebut dilakukan di laur ruangan tanpa batas halaman buku dan jendela kelas lagi. Tentu hal tersebut sangat memiliki konektifitas dengan filosofi pendidikan menurut KHD tentang kodrat alam dan zaman masing-masing murid.
Secara aplikatif dapat penulis jabarkan sebagai berikut:
1. Menata pikiran dan hari bahwa mendidik dan mengajara adalah hal yang mulia, sehingga tidak dilaksanakn secara emosional dan penuh target yang akan membebani diri dan murid.
2. Berusaha dengan sekuat diri dan tenaga untuk menjadi pribadi yang menyenangkan dan berbudi pekerti unggul di hadapan murid, sehingga akan menjadi tauladan baik bagi murid
3. Mendesain pembelajaran dengan berbagai media pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi sosio-kultur dan kodrat alam dan zaman murid.
4. Mengakomodasi secara bergantian atau menyeluruh kecenderungan belajar setiap anak yang ada di dalam kelas, sehingga akan terwujud pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi murid di kemudian hari.
5. Memusatkan pembelajaran pada murid, anak dituntun untuk berani mengungkapkan pendapat, pemikiran serta minatnya dalam belajar tanpa adanya rasa takut salah dalam penyampaiannya tersebut. Selain dalam hal ranah kognisi siswa dituntun untuk memiliki pengalaman belajar yang bermakna dan penuh nilai-nilai budi pekerti luhur yang berakar dari kondisi sosio-kultur keluarganya dan linmgkungannya.
D. Tentang Penulis
![]() |
Nama: Ainul Andy Sudarmoko, S.Pd.I (CGP-5 Kab. Malang Provinsi Jawa Timur)
TTL: Lamongan, 28 Mei 1991
Tempat Bertugas: SD Negeri 2 Pandanrejo - Kec. Wagir Kab. Malang Sejak 01 Mei 2019 s.d sekarang
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937
https://kabardamai.id/trilogi-pendidikan-ala-ki-hajar-dewantara/dibaca pada 1 Mei 2022 pukul 16.00 WIB





Uji Coba Komentar.
BalasHapusSuip, pak..
BalasHapus